Soal Hukum Membayar Fidyah Puasa Menggunakan Uang Tunai, Berikut Penjelasannya

- 18 Maret 2022, 08:57 WIB
Ilustrasi puasa. Membayar fidyah puasa dengan uang tunai.
Ilustrasi puasa. Membayar fidyah puasa dengan uang tunai. /Pexels/Engin Akyurt

INDRAMAYUHITS – Umat Islam dengan kondisi tertentu yang dibolehkan syariat, Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan.

Namun, Islam menganjurkan untuk menggantinya dengan membayar denda pengganti yang dalama Bahasa agama disebut fidyah atau kafarat.

Bagi umat Islam yang memenuhi syarat dan belum membayar fidyah pengganti puasa Ramadan diharapkan segera menunaikannya.

Baca Juga: Bagaimana Hukum Bertransaksi dengan Orang yang Mendapatkan Harta dari Jalan Haram? Begini Pendapat Ulama

Dilansir Indramayu Hits dari laman resmi Pesantren Lirboyo berjudul Hukum Membayar Fidyah Puasa Menggunakan Uang Tunai yang publish 7 Juni 2020 disampaikan bahwa orang tua renta, orang sakit parah yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan lain-lain yang tergolong orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen dapat keringanan meninggalkan puasa Ramadan.

Bahkan yang bersangkutan tidak diharuskan untuk meng-qodho puasanya di lain waktu setelah bulan Ramadan.

Namun, sebagai gantinya, mereka diwajibkan membayar fidyah/kafarat (denda) yang dalam fiqih disebut sebanyak 1 mud atau 7 ons makanan pokok untuk setiap 1 hari yang ditinggalkan.

Baca Juga: Berikut Ini Lima Manfaat Tidur Menyamping, Nomor Tiga Diyakini Tak Ada yang Menyangka

Tentu dalam konteks Indonesia makanan pokok di antaranya adalah beras. Jika 1 bulan penuh, maka wajib membayar fidyah 21 kilogram beras untuk mereka yang berhak menerimanya, termasuk fakir miskin.

Lalu pertanyaannya, bolehkah mengeluarkan fidyah menggunakan uang tunai?

Dalam sebuah referensi Kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (XXXV/103) disebutkan:

Baca Juga: Yang Ingin Magang di Perusahaan Penerbangan, PT Citilink Sedang Buka Lowongan, Segera Daftar Syaratnya Mudah!

وَلاَ يَجُوزُ إِخْرَاجُ الْقِيمَةِ عِنْدَ الْجُمْهُورِ غَيْرِ الْحَنَفِيَّةِ عَمَلاً بِقَوْلِهِ تَعَالَى: {فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ} وَقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: {فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا}

ArtinyaL: Dan tidak boleh mengeluarkan nominal harga makanan menurut mayoritas ulama selain Hanafiyyah, karena mengamalkan firman Allah “maka kafaratnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin” dan firman Allah “maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin”.

Sementara itu, Dr. Wahbah az-Zuhaili membeberkan alasannya: 

وَسَبَبُ جَوَازِ دَفْعِ الْقِيْمَةِ أَنَّ الْمَقْصُوْدَ سَدُّ الْخَلَّةِ وَدَفْعُ الْحَاجَةِ وَيُوْجَدُ ذَلِكَ فِي الْقِيْمَةِ

 “Dan penyebab diperbolehkan menyerahkan nominal harga adalah karena tujuannya untuk memenuhi kebutuhan dan hal tersebut bisa tercapai dengan nominal harga tersebut. (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, IX/7156).

Baca Juga: Inovatif, Daftar Haji Sudah Bisa Online, Cukup Download Aplikasi Ini, Menag Minta Fiturnya Dikembangkan

Yang harus diperhatikan, jika membayar fidyah menggunakan uang dengan cara mengikuti pendapat madzhab Hanafi, maka kadar uang yang dikeluarkan disesuaikan dengan takaran dalam madzhab tersebut.

Yakni senilai harga 3,8 kilogram kurma basah, kurma kering atau anggur atau 1,9 kilogram gandum.

Menurut madzhab tersebut hanya empat macam makanan itulah yang dalilnya jelas, sehingga dijadikan patokan harga.

Baca Juga: Terkait Kasus Doni Salmanan Empat Publik Figur Diperiksa, Dua Lainnya Menyusul

Maka wajar dalam madzhab ini tidak mematok pada makanan pokok di daerah setempat. (Ad-Dur al-Mukhtar, II/364). ***

Editor: Kalil Sadewo

Sumber: Lirboyo.net


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah