Sambut Muktamar NU Ke-34 Dengan Suka Cita

- 9 Desember 2021, 13:55 WIB
Tangkapan layar pengumuman keputusan soal Muktamar NU.
Tangkapan layar pengumuman keputusan soal Muktamar NU. /Youtube NU Channel.

 

SEBAGAI warga Nahdliyin kami merasa sangat gembira mendengar kabar ditetapkan dan diputuskannya penyelenggaraan Muktamar NU Ke-34 di Lampung. Ternyata  hasilnya dikembalikan lagi pada hasil Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar NU pada 26 September 2021 di Jakarta. Untuk pelaksanaan Muktamar NU ke-34 akan digelar pada tanggal 23 sampai 25 Desember di Lampung seiring dengan keputusan pemerintah membatalkan penerapan PPKM level 3 secara serentak di Indonesia.

Penyelenggaraan Muktamar sempat maju mundur seiring adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara nasional mulai 23 Desember. Imbas dari penerapan PPKM level 3 muncul 2 opsi. Opsi pertama, Muktamar dimajukan dan opsi kedua, Muktamar ditunda hingga awal tahun depan. Pemerintah membatalkan PPKM maka  keputusannya dikembalikan ke hasil Munas dan Konbes.

Munculnya Para Kandidat Hebat

Sejumlah suara-suara mulai mengemuka secara terbuka siapa-siapa kandidat yang akan menahkodai kapal besar NU. Muncul nama petahana Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj, disusul KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Marzuki Mustamar. Di luar calon tersebut tadi ada calon yang mengemuka masuk dalam bursa pencalonan dan dukungannya ramai saling dukung mendukung bahkan ada yang membuat jejak pendapat atau polling. Nama-nama tersebut KH. Bahaudin Nursalim, KH. Abdul Ghofur Maemoen, KH. Asep Saefudin Chalim, KH. Marsudi Syuhud. Sampai hari ini amatan penulis, para kandidat mengkerucut ada 2 yaitu, Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradj dan  KH. Yahya Cholil Staquf.

Para Muassis NU telah memberikan contoh teladan yang baik bagaimana seharusnya etika pemilihan ketua tertinggi itu dilaksanakan. Kita belajar dari Muktamar NU ke-27 Situbondo tahun 1983. Pada waktu itu para kyai sudah saling tunjuk antara KH. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo) maupun KH. Machrus Ali (Lirboyo). Apa yang terjadi? Keduanya saling menolak dan saling bercanda sambil membawa-bawa Malaikat segala. Justeru yang diusulkan KH. MA Sahal Mahfudz sebagai Rais Am.

Yang lebih menegangkan  Muktamar NU ke-29 tahun 1994 di Pesantren Cipasung Tasikmalaya. KH. MA Sahal Mahfudz digadang-gadang menjadi Rais Am tetapi beliau mengalah dan lebih menghormati KH. Ilyas Ruchiyat. Baru pada Muktamar NU ke-30 tahun 1999 di Lirboyo Kediri, para kyai memilih secara aklamasi KH. MA Sahal Mahfudz.

 Ahlul Halli Wal Aqdli, Sistem Pemilihan Model Baru

 Baru muncul model baru pemilihan dengan Ahwa atau Ahlul Halli wal Aqdli di Muktamar NU yang ke-33 tahun 2015 di Jombang. Yaitu, para kyai sepuh berwenang menunjuk Rais Am. Pada saat itu Pengurus PWNU Jawa Timur menghendaki KH. Maemoen Zubair sebagai Rais Am. Pada saat para kyai sepuh yang masuk dalam Ahwa memilih KH. Maemoen Zubair, justeru Kyai Maemoen tidak berkenan. Akhirnya disepakati KH. Mustofa Bisri sebagai Rais Am dan KH. Ma’ruf Amin sebagai wakilnya. Diluar dugaan KH. Mustofa Bisri yang lebih dikenal dengan Gus Mus mengundurkan diri, maka terjadilah kekosongan organisasi dan mau tidak mau KH. Ma’ruf Amin menjadi Rais Am.

Muktamar NU Lampung Yang Bermartabat

Persoalan yang hangat dalam Muktamar kali ini menurut hemat saya soal skema pemilihan Ketua Umum atau Ketua Tanfidziyah mulai dari PBNU hingga kepengurusan terendah. Karena ada opsi usulan untuk sistem Ahwa sekalipun usulan model ini sudah tertolak saat Munas tahun 2021 di Jakarta, tapi ada juga sebagian kalangan yang menghendaki diberlakukannya sistim Ahwa dalam pemilihan Tanfidziyah, diantara yang mengusulkan sistem  ini adalah PWNU Jawa Timur.

Pengurus wilayah NU Jawa Timur mengusulkan untuk pemilihan Ketua Tanfidziyah dengan sistem Ahwa tujuannya mengambil jalan tengah menghindari munculnya konflik jual beli suara. “Alasan yang lebih kuat lagi, karena sistim Ahwa itu produk asli NU yang digagas KH. Hasyim Asy’ari” ujar KH. Syafrudin Syarif  Katib PWNU Jatim (Aula, November 2021).

“Pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU di Muktamar ke-34 akan dilakukan dengan metode one man one vote atau voting oleh para pemilik suara. Hal ini merupakan keputusan Komisi Organisasi setelah sidang dalam Munas Alim Ulama dan Knbes NU tahun 2021sama persis pada saat Muktamar NU ke-33 tahun 2015 di Jombang” kata Ketua Steering Committe Munas Konbes NU tahun 2021 KH. Ishomudin (Sindonews.com, 29 September 2021)

“Dalam wawancara dengan KH. Juhadi Ketua Tanfidziyah NU Jawa Barat  beliau mengatakan, saya mewakili NU Provinsi Jawa Barat merasa gembira dengan telah diputuskannya pelaksanaan Muktamar Ke-34 di Lampung yang akan berlangsung tanggal 23 sampai 25 Desember 2021 mudah-mudahan berjalan dengan lancar tanpa ada halangan satu apapun. Sepenuhnya  kami serahkan kepada hasil-hasil Muktamar, adapan skema pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah dan Rais Am kami taat dan patuh pada peraturan AD/ART. Yaiyu Voting untuk pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah dan Ahwa untuk penentuan Rais Am” (wawancara tanggal 09 Desember 2021 via telepon).

Terlepas dari apakah menggunakan sistem pemilihan (voting) atau dipilih oleh para kyai sepuh (Ahwa) mudah-mudahan Muktamar NU ke-34 tahun 2021 di Lampung tidak terjadi ekses dan berjalan dengan baik. Dalam Muktamar kali ini kita dihadapi tantangan bangsa yang semakin besar sehingga membutuhkan sosok figur atau tokoh pemimpin umat yang memahami bagaimana membentengi Indonesia dari munculnya faham intolerans trans nasional Wahabi dan organisasi perusak persatuan bangsa. Selain itu juga harus dipikirkan soal pendidikan, kesehatan, tarap hidup, peningkatan ekonomi bagi umat.

Kami bergembira dan bersuka cita-cita mudah-mudahan Muktamar NU bisa berjalan dengan baik, berkualitas dan bermartabat. Wallohu a’lam.***

Artikel ini Ditulis Mustopa, Muharrik NU, Dosen STID Al-Biruni Babakan Ciwaringin Cirebon.

Editor: Kustano


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah