Jumat, 21 Februari 2020

Sosok Inspiratif Jaka Herman, Dalang Muda Asal Indramayu

- 23 November 2019, 06:33 WIB
Jaka Dalang Muda Indramayu.*/GELAR GANDARASA/PR

INDRAMAYU, (PR).- Di era 4.0, teknologi dan industri sangat berkembang secara pesat dan menjamur ke berbagai tempat. Sebagian besar orang beranggapan, ketika mempunyai seorang momongan mereka akan menyiapkan anaknya untuk dapat bersaing dan menyuguhkan hal-hal modern.

Terbukti, seperti sekarang sejak kecil anak-anak sudah dikenalkan dengan kecanggihan gawai, tanpa menoleh sedikitpun kepada budaya tradisional. Alhasil, banyak budaya tradisional yang mulai ditinggalkan karena dicap jadul atau kuno.

Namun berbeda dengan Jaka Herman, remaja lelaki berusia 16 tahun ini sangat lihai memainkan berbagai karakter wayang golek, lengkap dengan iringan kendangan gamelan. Penampilannya yang menakjubkan tak jarang membuat penonton kagum dengan bakatnya.

Hobi bermain wayang mulai ia gemari ketika duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar (SD). Bakat ini didapatkan dari pamannya yang merupakan seorang dalang, yakni Ki Ahmadi. Jaka bercerita, bahwa ia sangat menggemari cerita terkait sejarah Indramayu. Menurutnya, kebanyakan cerita perkembangan Indramayu dapat ditemukan dalam kesenian wayang.

Tari Sintren Indramayu, Kental Hal Mistis dan Penari Tidak Sadar

Menjadi seorang dalang memang tidak mudah, dalang harus mempunyai konsentrasi yang hebat. Karena dibutuhkan keselarasan antar ucapan, gerakan wayang, dan iringan gamelan. Pejuangan menjadi dalang bukan tanpa halangan.

Jaka kerap menerima cemooh dari teman-teman sebayanya karena kegemarannya tersebut. Seperti, “kenapa harus menyukai wayang seperti orangtua saja”. Sindiran ini tidak membuat Jaka malu dan putus asa, justru ini digunakan Jaka sebagai landasan agar dirinya terus berkembang melatih kemampuannya.

Jaka sangat menyadari bahwa kesenian wayang mulai ditinggalkan, menurutnya siapa yang akan melestarikan budaya ini jika tidak generasi muda. Persoalan inilah yang mendasarinya menekuni kesenian wayang. Jaka berharap, dengan turunnya ia ke perwayangan memupuk minat-minat generasi muda saat ini. Kesenian wayang memang sudah dipucuk kepunahan, karena minimnya generasi penerus.*** (Alvn Aditya/JT)

 

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

X